Berita Desa
Mahasiswa UMUS Brebes Hadirkan Program KANCIL ALAM, Dorong Kreativitas Siswa SDN Luwunggede 03 Melalui Kolase Berbahan Alam
5 Agustus 2026
Admin Desa

Gagasan tersebut diwujudkan oleh Umi Rokhaeni, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Semester VII Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes, melalui program bertajuk KANCIL ALAM (Kreasi Anak Cilik, Kolase Budaya dari Bahan Alam) yang diselenggarakan di SD Negeri Luwunggede 03, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.
Program ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran kreatif yang mengajak siswa memanfaatkan berbagai material alami sebagai media berkarya. Daun yang gugur, ranting kecil, bunga kering, rumput, hingga biji-bijian yang banyak dijumpai di lingkungan sekolah diolah menjadi kolase dengan beragam bentuk sesuai imajinasi masing-masing peserta. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memperoleh pengalaman dalam bidang seni, tetapi juga belajar mengenali lingkungan sebagai sumber belajar yang kaya akan manfaat.
Sejak kegiatan dimulai, suasana kelas berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh antusiasme. Puluhan siswa tampak larut dalam aktivitas memilih bahan, memimlih pola, kemudian merangkainya menjadi karya yang memiliki nilai estetika. Tidak sedikit dari mereka yang saling berdiskusi mengenai bentuk gambar yang akan dipilih, sementara yang lain sibuk memadukan warna dan bentuk biji-bijian agar menghasilkan komposisi yang menarik.
Bagi sebagian besar siswa, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang baru. Mereka terbiasa menggunakan pensil warna atau krayon ketika mengikuti pelajaran seni, namun kali ini mereka diajak menciptakan karya dengan memanfaatkan benda-benda yang tersedia di alam sekitar. Kesederhanaan bahan yang digunakan justru memunculkan rasa ingin tahu sekaligus mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif dalam menemukan berbagai kemungkinan bentuk.
Umi Rokhaeni menjelaskan bahwa KANCIL ALAM dirancang sebagai media pembelajaran yang mampu mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak secara bersamaan. Menurutnya, proses berkarya bukan hanya menghasilkan sebuah produk, melainkan juga melatih kemampuan berpikir, ketelitian, koordinasi gerak, hingga keberanian dalam mengekspresikan ide.
"Setiap anak memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Ketika mereka diberikan kebebasan untuk berkreasi, mereka belajar menyampaikan gagasan melalui karya yang dibuat. Dari proses itu tumbuh rasa percaya diri sekaligus kemampuan untuk menghargai hasil kerja sendiri maupun karya teman-temannya," ungkap Umi Rokhaeni.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan pengenalan berbagai jenis bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai media kolase. Siswa kemudian diarahkan untuk mengamati bentuk, ukuran, warna, dan tekstur setiap bahan sebelum menentukan gambar yang akan dipilih. Setelah itu, mereka mulai menyusun potongan-potongan bahan alam hingga membentuk komposisi yang sesuai dengan ide masing-masing.
Mahasiswa pendamping dan guru kelas memberikan bimbingan selama proses berlangsung. Namun, pendampingan dilakukan tanpa membatasi kreativitas peserta didik. Anak-anak tetap diberikan keleluasaan untuk menentukan bentuk karya sesuai imajinasi mereka. Pendekatan tersebut bertujuan agar siswa tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga terbiasa mengambil keputusan serta menyelesaikan persoalan yang muncul selama proses berkarya.
Di balik aktivitas yang terlihat sederhana, tersimpan berbagai manfaat yang mendukung perkembangan peserta didik. Gerakan memilih, memegang, menyusun, dan menempelkan bahan alam melatih kemampuan motorik halus yang sangat penting bagi anak usia sekolah dasar. Pada saat yang sama, mereka juga belajar mengatur konsentrasi, meningkatkan ketelitian, serta membiasakan diri menyelesaikan pekerjaan secara bertahap.
Tidak kalah penting, program ini memperkenalkan konsep pembelajaran berbasis lingkungan. Anak-anak diajak memahami bahwa alam menyimpan banyak potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai media belajar tanpa harus merusaknya. Melalui pengalaman tersebut, mereka belajar menghargai lingkungan sekaligus menyadari bahwa kreativitas dapat tumbuh dari benda-benda sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Selama kegiatan berlangsung, suasana belajar terasa lebih hidup dibandingkan pembelajaran konvensional. Percakapan antarsiswa terjadi secara alami ketika mereka saling bertukar pendapat mengenai bentuk karya, membantu teman yang mengalami kesulitan, atau memberikan apresiasi terhadap hasil yang telah diselesaikan. Interaksi semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan sosial sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai.
Program KANCIL ALAM juga berhasil menghasilkan sekitar 5 sampai 7 karya kolase berbahan alam yang akan dimanfaatkan sebagai hiasan dinding kelas maupun mading sekolah. Setiap karya memiliki karakter yang berbeda, mencerminkan imajinasi, kreativitas, dan cara berpikir masing-masing siswa. Keberadaan karya tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik sekaligus menjadi bentuk penghargaan atas usaha yang telah dilakukan peserta didik.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah karya yang dihasilkan. Dampak yang lebih penting terlihat pada perubahan sikap siswa selama mengikuti kegiatan. Mereka menjadi lebih percaya diri ketika mempresentasikan hasil karyanya, lebih berani mengemukakan ide, serta menunjukkan semangat yang tinggi untuk menyelesaikan setiap tahapan kegiatan hingga selesai.
Menurut Umi Rokhaeni, pengalaman belajar yang melibatkan aktivitas secara langsung akan lebih mudah diingat oleh anak dibandingkan pembelajaran yang hanya berpusat pada penyampaian materi di dalam kelas. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis praktik dinilai mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif sekaligus memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik.
"Saya berharap anak-anak tidak hanya mengingat cara membuat kolase, tetapi juga memahami bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka. Kreativitas lahir ketika seseorang berani mencoba dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda," ujarnya.
Pelaksanaan program ini sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan sekolah mampu menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Kehadiran mahasiswa sebagai mitra pendidikan membuka ruang bagi penerapan metode pembelajaran yang lebih variatif sehingga siswa memperoleh pengalaman baru yang mendukung perkembangan kemampuan akademik maupun nonakademik.
Melalui KANCIL ALAM, pembelajaran seni tidak lagi dipandang sekadar sebagai kegiatan menghasilkan gambar yang menarik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk menanamkan karakter kreatif, melatih ketekunan, membangun rasa percaya diri, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Bagi SD Negeri Luwunggede 03, kegiatan ini menjadi salah satu contoh bahwa lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium belajar yang kaya akan potensi. Sementara bagi Umi Rokhaeni, program tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata sebagai calon pendidik dalam menghadirkan pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Di tengah perkembangan dunia pendidikan yang terus berubah, KANCIL ALAM memberikan pesan sederhana namun bermakna. Pendidikan tidak selalu bergantung pada kecanggihan sarana, melainkan pada kemampuan menghadirkan pengalaman belajar yang menyentuh rasa ingin tahu anak. Dari selembar daun yang gugur hingga biji-bijian yang tidak terpakai, lahir karya-karya yang bukan hanya memperindah ruang kelas, tetapi juga menjadi simbol tumbuhnya kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang ketika diberi kesempatan.
Penulis : Umi Rokhaeni